Kamis, 27 Juli 2017

Pemikiran Keislaman A Hassan Bandung didiskusikan di Malaysia

| 469 Views
id A Hassan Bandung
"Bisa dipandang Dahlan sebagai `man of action` sekalipun fikiran-fikiran itu ada. Sedangkan Hassan sebagai `man of ideas`," katanya.
Kuala Lumpur, (AntaraKL) - Pemikiran Keislaman A Hassan Bandung dari Indonesia didiskusikan pada Seminar Pemikiran Reformis Ke VI oleh Islamic Rennaissance Front (IRF) di Kuala Lumpur, Sabtu, dengan menghadirkan sejumlah pembicara.

Tampil sebagai narasumber Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Antar Agama dan Peradaban, Prof Dr Syafiq A Mughni, Persatuan Muhammadiyah Pulau Pinang, Ustadz Zainal Abidin Zamzam dan dosen National University of Singapore, Dr Azhar Ibrahim.

"Seminar tadi tentang A Hassan sebagai reformer Indonesia awal abad 20. Ada beberapa tinjauan terutama meletakkan fikiran-fikiran Hassan dalam konteks masyarakat Melayu di Malaysia," ujar Syafiq.

Intinya, ujar dia, adalah karena masyarakat Melayu secara hukum menganut madzab Syafii sehingga sulit ditembus fikiran-fikiran baru di luar madzab tersebut, sehingga fikiran-fikiran A Hassan sulit tersebar di masyarakat Melayu apalagi di Johor Bahru bahkan kitab "Soal Jawab Karangan A Hassan" diharamkan.

"Kemudian yang kedua adalah membahas soal biografi A Hassan yang diletakkan dalam konteks reformasi Islam di Indonesia. Disitu ada perbandingan antara Ahmad Syurkati, A Hassan dan Ahmad Dahlan," katanya.

Dibandingkan dengan ketiganya, ujar dia, A Hassan adalah reformer yang paling produktif dan betul-betul menguasai banyak ilmu khususnya ilmu agama.

"Dia menulis `ushul fiqih`, masalah `ijtihad`, `iktiba` kemudian masalah `taklid` dan berbagai persoalan yang dianggap taqlid atau manifestasi dari taqlid misalnya bermadzab," katanya.

Hassan berpendapat bermadzab identik dengan taklid dan dilarang oleh agama karena itu umat Islam harus menghindari taklid belum lagi berbagai amalan yang dianggap bidah.

"Disitu Hassan dipandang sebagai orang yang orang yang `to the point` dan kata-kata yang tajam bahkan terhadap teman-temannya sendiri. Jadi A Hassan yang nampaknya keras dalam berpendapat ternyata hubungan persahabatan dengan lawan-lawannya sangat akrab," katanya.

Sehingga, ujar dia, ini harus menjadi teladan bagi semua bahwa perbedaan itu tidak harus menjadi permusuhan bagi seasama.

"Disamping Hasan paling produktif dia juga paling detail dalam agama tetapi kelebihan Ahmad Syurkati adalah dia fokus terhadap komunitas masyarakat Arab karena mereka mempunyai problema sendiri yang tidak dimiliki oleh komunitas arab yang ada di Indonesia," katanya.

Kemudian Ahmad Dahlan kelebihannya perhatian terhadap masalah-masalah sosial misalnya soal kemiskinan kebodohan dan sebagainya.

"Bisa dipandang Dahlan sebagai `man of action` sekalipun fikiran-fikiran itu ada. Sedangkan Hassan sebagai `man of ideas`," katanya.

Sisi selanjutnya, ujar dia, adalah meletakkan Hassan dalam kerangka sosiologis masyarakat Islam.

"Pandangan dari sudut budaya atau tradisi masyarakat muslim yang berkembang di nusantara. Indonesia atau Malaysia sesungguhnya memerlukan orang seperti Hassan untuk melakukan perubahan," katanya.

Tentang IRF, dia mengatakan lembaga ini bertujuan untuk mengintridusir pikiran-pikiran yang mencerahkan dan nampaknya aadanya kecocokan dengan pembaharuan di Indonesia dengan kebutuhan yang seharusnya dipenuhi oleh masyarakat Melayu. "Lembaga ini sangat bagus dalam rangka melakukan kajian dan mengintrodusir ke masyarakat," kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini. 

Editor:

COPYRIGHT © ANTARA 2017