Kamis, 27 Juli 2017

Kemenpar fasilitasi 80 industri Ikuti Matta Fair Kuala Lumpur

| 253 Views
id Matta Fair
"Promosi yang selama ini menitik beratkan pada branding dan advertising, mulai bergeser ke selling. Branding sudah dilakukan gencar di tahun pertama, advertising digeber tahun kedua. Tahun ketiga ini sudah harus selling to the point," katanya.
Kuala Lumpur, (AntaraKL) - Kementrian Pariwisata memfasilitasi 80 industri mengikuti Malaysian Association Tour and Travel Agent (MATTA) Fair Kuala Lumpur 2017 di Hall 3 Putra World Trade Center (PWTC) Kuala Lumpur yang digelar pada tanggal 17 - 19 Maret 2017.

"Partisipasi pada event tahunan ini, merupakan salah satu upaya untuk melanjutkan program promosi Kemenpar yang sebelumnya fokus pada branding dan advertising," Sekretaris Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementrian Pariwisata, Giri Adnyani di Kuala Lumpur, Kamis.

Dia mengatakan keikutsertaan Indonesia pada kegiatan ini adalah untuk mempromosikan sekaligus mempertahankan eksistensi pariwisata Indonesia di dunia khususnya kawasan Asia Tenggara, selain itu sebagai upaya untuk melanjutkan program Kemenpar mempromosikan Wonderful Indonesia.

"Negara Malaysia sendiri merupakan salah satu fokus pasar utama yang menjadi perhatian dari Kementerian Pariwisata dalam usaha promosi pariwisata ke negara-negara anggota ASEAN," katanya.

Pada partisipasi tahun ini, ujar dia, Indonesia menampilkan paviliun 36 booth dengan tema utama destinasi Jawa Timur yang mengangkat arsitektur Rumah Majapahit, Candi Wringin Lawang, serta berbagai "images" destinasi dari Jawa Timur seperti landscape Gunung Bromo, blue fire Gunung Ijen, kampung Warna-Warni dan masih banyak lagi.

"Peserta yang bergabung di paviliun Indonesia terdiri dari 80 industri pariwisata Indonesia dari 15 provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepri, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan Sulawesi Selatan," katanya.

Komposisi industri peserta dibagi menjadi dua yaitu 60 persen atau sebanyak 48 dari industri travel agent / tour operator anggota ASITA yang berpartner dengan anggota MATTA untuk dapat melakukan "direct sales" kepada "buyers" atau "customers".

40 persen atau sebanyak 32 dari industri Akomodasi, Atraksi Wisata, Destination Management Organization (DMO) dan Minat Khusus untuk melakukan pelayanan informasi serta promosi produk dan destinasi.

"Selain sebagai ajang mempromosikan destinasi wisata di Indonesia, MATTA Fair KL 2017 diharapkan juga bisa menghasilkan potensial transaksi bagi paket wisata dalam upaya mendatangkan wisatawan Malaysia dalam skala besar ke Indonesia," katanya.

Program acara di paviliun Indonesia antara lain "business to customers" (B to C) oleh industri pariwisata Indonesia, pelayanan informasi dan pendistribusian bahan promosi wisata, "gimmick" dan "gift redemption", minuman khas Indonesia dan refreshment, spa, quiz and games, demo/workshop, serta pertunjukan kesenian.

Dia mengatakan MATTA Fair KL 2017 merupakan tempat yang sangat potensial untuk melanjutkan program promosi Kemenpar yang fokus pada branding, advertising dan selling karena merupakan pameran "business to customer" yang memungkinkan para pelaku industri di Indonesia memperluas jejaring pasar mereka dan menawarkan paket-paket wisata Indonesia dengan melalui local partner-nya di Malaysia.

"Promosi yang selama ini menitik beratkan pada branding dan advertising, mulai bergeser ke selling. Branding sudah dilakukan gencar di tahun pertama, advertising digeber tahun kedua. Tahun ketiga ini sudah harus selling to the point," katanya.

Tiga poin penting - Go Digital, Air Connectivity, dan Homestay Desa Wisata menjadi pegangan Kemenpar untuk melangkah di kuartal pertama 2017. Tiga hal itu akan diselaraskan dengan kapasitas destinasi di tiga "greaters" (Bali, Jakarta, Kepri) serta 10 top branding dan 10 top destinasi sebagai Bali Baru.

"Untuk tahun 2017, pemerintah sudah mematok target kontribusi Pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional sebesar 13 persen, devisa yang dihasilkan sebesar Rp 200 triliun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 12 juta, jumlah kunjungan wisman 15 juta dan pergerakan wisnus 265 juta, serta indeks daya saing (WEF) berada di ranking 40 meningkat dari posisi saat ini di ranking 50 dunia," katanya.

MATTA Fair KL 2017, ujar dia, merupakan momentum yang paling potensial untuk menjaring lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia terutama wisman dari Malaysia.

Pada tahun 2017, Kemenpar menargetkan mampu menjaring wisman Malaysia sebesar 1.772.000 juta orang yang mana pada tahun 2016 wisman Malaysia sebanyak 1.225.458.














Editor:

COPYRIGHT © ANTARA 2017