Rabu, 22 November 2017

Dubes Rusdi Kirana bakal beli produk TKI

| 218 Views
id Rusdi Kirana
Dubes Rusdi Kirana bakal beli produk TKI
Rusdi Kirana didampingi Atase Hukum Fajar Sulaiman bersama pejabat Penjara Malaysia (Foto ANTARA / Dok) (1)
Kuala Lumpur, (AntaraKL.Com) - Duta Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Rusdi Kirana mengatakan perusahaannya bakal menjadi relawan untuk membeli produk-produk tenaga kerja Indonesia (TKI) wanita yang sudah diberi pelatihan.

"Saya bisa `volunteer` dulu perusahaan saya. Saya akan membeli langsung produknya. Uang yang dari kami beli digunakan untuk membayar bank. Kami gulirkan terus," kata Rusdi di Kuala Lumpur, Rabu, saat ditanya tentang programnya sebagai Dubes.

Dia mengatakan kalau melihat data tiap hari KBRI kedatangan 50 hingga 80 TKI bermasalah dan 95 persen di antaranya wanita yang kemudian tinggal di shelter KBRI kurang lebih satu hingga dua bulan.

"Kami latih mereka sesuai dengan bakat mereka. Kalau mereka tidak suka dengan jahit menjahit, jangan dipaksa, dicarikan yang lain. Usaha UKM kan banyak. Bisa bikin topi, sandal, rajutan, bordir, kaos dan banyak lagi," katanya.

Dia mengatakan pada umumnya mereka akan dilatih pekerjaan yang perlu ketelatenan karena pada umumnya wanita itu telaten sehingga dirinya yakin mayoritas dari mereka pasti bisa.

"Hanya bagaimana meyakinkan mereka dalam kondisi `down`. Sekarang mereka bermasalah. Mereka `down` memikirkan masa depannya. Mau pulang ke Indonesia bingung di mana. Yang pasti rasa frustasi ini harus dihilangkan. Diberi keyakinan latihan kamu ini akan berguna. Setelah kami yakinkan mereka. Saya yakin 40 persen dari orang yang kami latih tersebut akan sukses," katanya.

Setelah dilatih, ujar dia, pihaknya harus mengasistensi mereka saat pulang.

"Mereka pulang dikasih tiket perjalanan KBRI. Jadi kami tahu kapan mereka pulang. Dokumen kami yang urus. Sampai di Indonesia mereka diikutkan asosiasi atau klub. Mereka akan dikenalkan dengan bank. Bank akan memberikan KUR. Saya bisa menjadi bapak asuh atau bapak bisa jadi bapak asuh, untuk mendampingi mereka," katanya.

Dengan dana tersebut, ujar dia, mereka bisa memproduksi dan pihaknya melakukan asistensi dari sisi kualitas.

"Kami membantu distribusi dan pemasaran. Dengan kata lain. Saya bisa `volunteer` dulu perusahaan saya," katanya.

Rusdi mengatakan dari situ pihaknya akan membuat kajian kemudian meminta pemerintah Indonesia memberikan proteksi pada mereka, misalnya diberikan ruangan satu kali satu meter untuk berjualan supaya usaha mereka bisa berjalan.

"Kalau mereka bisa membuat roti, kue, handycraft, harapannya mengurangi wanita Indonesia berangkat ke manapun negara di dunia sebagai TKI informal. Mengurangi TKI informal untuk menjaga marwah bangsa karena tidak ada orang tua manapun di dunia yang mau anaknya jadi pembantu rumah tangga," katanya.

Rusdi mengatakan pihaknya juga akan membuka "Jendela Indonesia" di sejumlah daerah.

"Kami kan buka di Manado karena sekarang kenaikan turis di Manado 490 persen dan kami akan buka di Medan, Sumut. Tidak hanya itu, kami akan `encourages` karena saya tidak sendiri. Pengusaha lain juga seperti itu. Tinggal bagaimana sampaikan ini ke masyarakat, bagaimana pengusaha tahu membantu sesama," katanya.

Tentang kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf), dia mengatakan harapan kerja sama pasti ada namun yang akan dilakukan tidak dididik ke sektor IT dulu seperti operator komputer namun lebih ke sektor riil.

"Kami ke sektor riil dulu seperti pakaian sehari-hari sandal jepit, kaos, topi, kain pantai untuk turisme. Sekarang sudah dimulai. Sekarang lagi dibuat perencanaannya. Harapannya tiga bulan ini sudah berjalan," katanya.

Dia juga mengatakan sangat senang apabila ada perusahaan atau BUMN yang mau mendukung program TKI menjadi pengusaha UKM.

"Kami sangat welcome, kami malah mengharapkan bisa support. Ini program sosial, bukan cari untung. Bukan sekadar kasih uang makan, tetapi memberi alat pancing. Kalau ada teman-teman yang akan dukung kami sangat senang," katanya.***3***

(T.A034/B/N002/N002) 23-08-2017 14:59:52

Editor:

COPYRIGHT © ANTARA 2017